RamsNews

Kamis, 18 September 2025

NATO Kirim Jet Tempur ke Pintu Gerbang Rusia, Menuju Perang Dunia 3?





 Jakarta, RamsNews Indonesia - NATO telah mengerahkan jet pertamanya untuk mempertahankan wilayah udaranya di bawah operasi "Eastern Sentry". Ini adalah misi untuk mengamankan wilayah udara di sayap timur yang diluncurkan sebagai respons terhadap pelanggaran wilayah udara Polandia oleh Rusia.

Markas Tertinggi Kekuatan Sekutu Eropa (SHAPE) pada Senin (15/9/2025) menyatakan bahwa sebuah jet tempur Rafale milik Prancis. Selain itu, helikopter Polandia telah dikerahkan pada hari Sabtu (13/9/2025) untuk menghadapi potensi ancaman yang ditimbulkan oleh drone Rusia.


"Eastern Sentry akan memperjelas bahwa NATO selalu siap untuk bertahan," kata Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, dilansir Newsweek.

Rusia dituduh menguji NATO dengan melanggar wilayah udaranya selama pemboman droneterhadap Ukraina. NATO telah menanggapi ancaman drone Moskow dengan "Eastern Sentry" yang bertujuan untuk meningkatkan postur pertahanannya di sayap timur aliansi.

Polandia mengatakan bahwa mereka menembak jatuh drone pada 10 September dan mengaktifkan Pasal 4 aliansi untuk diskusi mendesak dengan anggota aliansi tentang ancaman tersebut. Rumania juga melaporkan bahwa mereka telah mengerahkan jet tempur pada 13 September sebagai tanggapan atas drone Rusia yang memasuki wilayahnya.


Dengan Denmark, Prancis, Jerman, dan Inggris yang menyumbangkan jet tempur serta kapal angkatan laut, dan sekarang Finlandia dan Latvia mendukung program tersebut, ada solidaritas multi-nasional dalam menghadapi apa yang dilihat oleh beberapa negara NATO sebagai ancaman Rusia.

"Perilaku Rusia yang sembrono merupakan ancaman langsung terhadap keamanan Eropa dan pelanggaran hukum internasional. Pesawat-pesawat ini bukan hanya unjuk kekuatan-mereka vital untuk mencegah agresi," kata Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, saat melihat jet tempur Typhoon Inggris berpatroli di langit Polandia.



Selasa, 16 September 2025

Tolak Wasit Kuwait di Pra Piala Dunia, Erick Minta Wasit Netral


Jakarta,RamsaNews-----Menolak dipimpin wasit asal Kuwait di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengajukan protes kepada FIFA dan AFC.

Erick Thohir mengatakan pihaknya sudah mengirim surat protes ke FIFA dan AFC setelah mengetahui wasit pertandingan Timnas Indonesia di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia berasal dari Kuwait yang dinilai berada satu regional dengan Arab Saudi dan Irak.

Timnas Indonesia bakal menjalani dua laga penting pada babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Di Grup B, tim asuhan Patrick Kluivert akan menghadapi Arab Saudi (8 Oktober) dan Irak (11 Oktober).


Dua pertandingan Timnas Indonesia akan bergulir di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah. Arab Saudi terpilih jadi tuan rumah Grup B pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.

Erick mengatakan PSSI meminta wasit yang bertugas pada dua laga Timnas Indonesia di babak 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 berasal dari negara netral. Ia mengusulkan wasit dari regional yang berbeda.

"Kami lagi coba melobi kalau bisa wasitnya tempat yang lebih netral seperti Australia, Jepang, China, atau bahkan Eropa. Ya kita lihat hasilnya," ujar Erick.

"Memang tekanan itu menarik. Rupanya dengan sepak bola kita bangkit, ada juga pihak-pihak yang mengantisipasi berlebihan. Padahal sepak bola itu yang diciptakan untuk kompetisi yang sehat, tapi realitanya hal-hal seperti ini terjadi," ucap Erick menambahkan.


Dua pertandingan Timnas Indonesia akan bergulir di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah. Arab Saudi terpilih jadi tuan rumah Grup B pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.

Erick mengatakan PSSI meminta wasit yang bertugas pada dua laga Timnas Indonesia di babak 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 berasal dari negara netral. Ia mengusulkan wasit dari regional yang berbeda.

"Kami lagi coba melobi kalau bisa wasitnya tempat yang lebih netral seperti Australia, Jepang, China, atau bahkan Eropa. Ya kita lihat hasilnya," ujar Erick.

"Memang tekanan itu menarik. Rupanya dengan sepak bola kita bangkit, ada juga pihak-pihak yang mengantisipasi berlebihan. Padahal sepak bola itu yang diciptakan untuk kompetisi yang sehat, tapi realitanya hal-hal seperti ini terjadi," ucap Erick menambahkan.